Review Game Pragmata: Game Baru Capcom yang Bikin Nostalgia!

# Review Game Pragmata! Gimenvo bahas tuntas durasi gameplay unik, grafis RE Engine yang mulus, dan alasan kenapa game sci-fi Capcom ini wajib kamu tamatkan.

Review Game Pragmata Game Baru Capcom yang Bikin Nostalgia!

Gimenvo – Masih ingat tahun 2020 lalu pas PlayStation 5 mau rilis? Saat itu Capcom tiba-tiba pamer game baru bernama Pragmata dengan gaya presentasi yang absurd banget. Kita semua dibuat bingung dengan kemunculan anak kecil aneh dan pria berzirah yang mirip banget sama karakter dari game Vanquish.

Meski trailernya bikin dahi berkerut, game ini sukses masuk radar pantauan saya sejak awal. Sayangnya game ini hobi banget kena delay parah sampai bikin ubanan. Fast forward ke tahun 2026 ini, akhirnya game gaib tersebut rilis juga ke pasaran.

Saya baru saja menamatkan cerita utama game ini dan lagi asyik membereskan beberapa misi sampingan. Sambil melihat sisa-sisa konten yang ada, jujur saja saya merasa sangat puas. Game dengan model seperti inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh industri game masa kini.

Baca Juga : Alasan Jutaan Gamer Kecanduan Pragmata Tanpa Perlu Grinding

Durasi Bermain dan Performa Engine

Banyak gamer di luar sana menyamakan game ini dengan era keemasan konsol Xbox 360. Buat saya pribadi, itu adalah sebuah pujian selangit dan saya sangat setuju dengan opini tersebut. Rekaman gameplay yang saya mainkan ini murni dari area awal game untuk menghindari bocoran cerita alias spoiler.

Bicara soal durasi main, waktu penyelesaian saya menunjukkan angka 14 sampai 15 jam. Waktu segitu sudah mencakup sesi tutorial dan muter-muter mencari mayoritas barang koleksi. Buat game seharga 60 dolar di zaman sekarang, durasi dan kualitas sepadat ini sangat menghargai kantong serta waktu pemainnya.

Performa game ini berjalan dengan sangat mulus menggunakan RE Engine yang super tangguh. Engine buatan Capcom ini memang sudah jadi senjata andalan mereka untuk berbagai judul sejak tahun 2017. Gila saja, engine yang hampir berumur satu dekade ini masih sanggup bikin saya merinding saking bagusnya.

Bahkan game seperti Mega Man terbaru, Ghost Trick, sampai seri Ghosts ‘n Goblins ikut pakai engine ini. Semuanya ditenagai oleh mesin yang sama dengan seri utama Resident Evil. Terbukti banget kalau Capcom sangat paham cara memeras performa maksimal dari rahasia dapur mereka.

Premis Cerita dan Aksi Bertempo Cepat

Di dalam Pragmata kamu bakal bermain sebagai karakter utama bernama Hugh. Kamu akan terbang ke bulan bersama sekutu untuk menyelidiki sebuah insiden misterius. Latar dunia dalam game ini rupanya sedang menguji coba teknologi printer 3D canggih dari material filamen baru.

Alat canggih ini diklaim bisa mencetak benda apa pun, mulai dari mobil sampai barang sehari-hari. Tujuan teknologi ini sebenarnya mulia, yaitu mencari cara agar bumi bisa punya sumber daya melimpah tak terbatas. Tentu saja semua eksperimen di markas bulan tersebut berantakan dan kamu dituntut untuk membereskan kekacauannya.

Percaya deh, dari awal game mulai sampai kamu benar-benar menembak musuh itu cuma butuh waktu lima menit. Inilah nilai jual utamanya yang sangat saya apresiasi sebagai gamer tua yang benci basa-basi. Pragmata adalah game yang isinya 90 persen murni gameplay brutal dan cuma nyelipin 10 persen cutscene penceritaan.

Pertarungan Dinamis dan Mekanik Retasan

Di awal permainan Hugh bakal bertemu android berwujud gadis kecil bernama Diana. Hubungan simbiosis mutualisme langsung terbentuk karena mereka berdua butuh satu sama lain buat bertahan hidup. Diana punya kemampuan super ajaib untuk meretas musuh robot yang sedang kalian lawan.

Mekanik retas ini lumayan unik karena kamu harus mengarahkan kursor di atas papan kotak-kotak menggunakan tombol kontroler. Bayangkan kamu harus menyelesaikan puzzle jaring kotak ini secara real-time sambil tetap membidik musuh dengan panik. Awalnya saya pikir ini bakal jadi mekanik paling bikin emosi, tapi untungnya musuh bergerak cukup lambat.

Gameplay Unik dan Sistem Upgrade

Begitu kotak hijau menyala dan retasan berhasil, musuh bakal gampang banget rontok terkena tembakan senjata kinetikmu. Pilihan senjatanya juga lumayan barbar, mulai dari pistol biasa, karabin, sampai peluncur roket. Favorit saya tentu saja senjata bernama shock wave yang fungsinya persis seperti shotgun jarak dekat.

Siklus gameplay yang ditawarkan beneran terasa baru dan sangat menyegarkan buat sebuah judul IP anyar. Di saat developer lain takut mengambil risiko, Capcom justru tampil berani dengan mekanik yang tidak pasaran. Ini adalah udara segar yang membuktikan kalau mereka tidak cuma jago mendaur ulang franchise lama.

Game ini juga sangat royal memberikan bahan upgrade untuk karakter Hugh maupun Diana. Kamu bisa membuka kemampuan baru, memperkuat senjata, sampai memodifikasi alur jaring retasan milik Diana. Ada kotak kuning spesial di jaring retasan yang memungkinkan Diana melakukan retasan beruntun ke banyak robot sekaligus.

Harga Wajar dan Laju Tanpa Filler

Bukan cuma itu, Hugh juga bisa memasang pelindung atau menebar ranjau darat untuk menjebak lawan. Kamu juga bisa menambahkan elemen petir untuk memperkuat efek retasan Diana di medan tempur. Kalau kamu rajin memungut barang koleksi, di akhir game karaktermu bakal terasa seperti dewa yang tak terkalahkan.

Capcom berani memasang harga 60 dolar, bukan 70 apalagi 80 dolar yang sekarang seolah jadi standar rakus industri AAA. Skala gamenya pun sangat terukur dan tidak memaksakan diri menjadi game open world raksasa. Mereka paham betul kalau gamer benci disuruh lari-lari mengantar barang cuma demi memanjangkan durasi bermain.

Saya merasa laju permainan Pragmata ini dieksekusi dengan sangat sempurna dari awal hingga akhir. Tidak ada satu pun momen yang terasa membosankan atau seperti pekerjaan rumah yang melelahkan. Rasanya sangat memuaskan bisa bermain game tanpa harus terjebak di area kosong tanpa makna.

Menjelajahi Hubungan Hugh dan Diana

Review Game Pragmata Hugh dan Diana

Meski begitu, perkembangan hubungan bapak dan anak antara Hugh dan Diana rasanya dieksekusi terlalu buru-buru. Hugh sadar betul kalau bocah yang ia lindungi itu murni cuma sebuah robot android. Tapi karena wujudnya yang mirip anak kecil, insting perlindungannya langsung keluar begitu saja tanpa banyak perlawanan batin.

Padahal bakal lebih dramatis kalau Hugh awalnya merasa canggung atau terkena efek uncanny valley sebelum akhirnya luluh. Gejolak batin antara menganggap Diana sebagai alat atau teman sejati pasti bakal jadi konflik internal yang seru. Tapi ya sudahlah, interaksi mereka di markas tetap menyenangkan untuk diikuti.

Diana sering memberikan gambar krayon buatan tangannya yang terlihat sangat imut. Hugh akan memajang gambar tersebut di markas dan mengajari hal-hal normal dari bumi layaknya anak manusia biasa. Dinamika polos saat Diana belajar melihat dunia ini benar-benar bikin hati terasa hangat.

Estetika Markas Bulan dan Detail Lingkungan

Cerita utama gamenya memang lurus-lurus saja dan latar belakang markas di bulan ini terlihat cukup bersih di awal. Untungnya Capcom pintar memberikan variasi tema bioma agar mata kita tidak bosan melihat tembok besi melulu. Mereka sangat terampil mengubah suasana agar tidak ada area yang terasa diulang-ulang secara murahan.

Kontras antara area cetak 3D yang sempurna dengan area produk gagal yang berantakan memberikan detail lingkungan yang jempolan. Barang-barang cacat cetak yang berserakan ini sukses menceritakan nasib tragis para kru sebelum kamu tiba. Latar tempatnya benar-benar berbicara meski tanpa dialog panjang lebar.

Kualitas Grafis dan Performa Lintas Platform

Ada beberapa plot twist cerita yang bisa kamu temukan kalau rajin membaca data pad yang berserakan. Selebihnya, plot utama game ini murni cuma tentang mencari tahu masalah lalu kabur kembali ke bumi. Kurangnya kedalaman cerita ini tertutupi dengan sempurna berkat interaksi lingkungan dan gameplay yang intens.

Secara visual, performa frame rate dan ketajaman grafis Pragmata sangat patut diacungi jempol. Apalagi setelah gamenya mendapat suntikan patch PSSR versi 2.0 yang bikin semuanya makin kinclong. Desain baju zirah Hugh dan kualitas tekstur di game ini benar-benar memanjakan mata.

Menariknya lagi, game ini juga berjalan sangat impresif di konsol Switch 2 yang spesifikasinya lebih rendah. Meski grafisnya tidak setajam versi PC rakitan dewa atau PS5 Pro, Capcom tetap sukses mengejar target frame rate tinggi. Kehadiran game seberat ini bersama Resident Evil menjadi bukti sahih kekuatan konsol terbaru tersebut.

Memanen Hasil dari Engine Buatan Sendiri

Pragmata sukses memberikan formula baru buat developer besar yang lagi pusing mengatur dana pengembangan. Keputusan berani Capcom untuk meracik pengalaman unik dengan harga wajar patut dijadikan standar industri. Mereka tidak mencoba merampok dompet pemain demi menutupi biaya membengkak seperti perusahaan tetangga.

Investasi waktu dan keringat Capcom untuk memoles RE Engine terbukti memanen hasil yang sangat luar biasa. Saya sendiri jujur sudah mulai lelah melihat tren game masa kini yang sedikit-sedikit menggunakan Unreal Engine. Mesin sejuta umat itu sering banget bikin game PC kena penyakit stuttering kronis dengan tampilan visual yang terlalu pasaran.

Makanya, melihat performa RE Engine yang begitu dioptimalkan bikin saya rindu dengan masa lalu industri ini. Saya merindukan era di mana tiap studio punya mesin eksklusif yang batas kemampuannya selalu bikin kita penasaran. Intinya Pragmata adalah game brilian dengan mekanik segar yang wajib kamu tamatkan sekarang juga.

Ringkasan Review Game Pragmata

  • Pragmata rilis setelah penantian 6 tahun sejak pengumuman perdananya di 2020.
  • Durasi game sangat pas (14-15 jam) dengan harga rasional di $60.
  • Game fokus 90% pada gameplay dengan mekanik peretasan real-time yang segar.
  • Engine RE milik Capcom kembali unjuk gigi memberikan performa luar biasa mulus lintas platform, termasuk di Switch 2.

Suka dengan gaya bedah game yang no-bullshit ini? Pastikan kamu baca artikel tulisan Revan Gunawan lainnya di platform Gimenvo! Saya jamin isinya daging semua, bukan sekadar rangkuman basi dari Wikipedia.

Udah numpang baca gratis masa nggak mau follow? Yuk langsung like, share, dan follow semua sosial media Gimenvo! Kalau nggak follow, awas aja nanti gacha kamu ampas terus seumur hidup!

Disclaimer: Artikel ini merupakan ulasan pribadi penulis berdasarkan pengalaman bermain. Penilaian dan pengalaman bermain dapat berbeda-beda untuk setiap individu tergantung pada preferensi dan perangkat yang digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *